Allah berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا
إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
“ Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya……”{QS
Al Maidah :35}
Wasilah adalah
segala sesuatu yang dijadikan Allah sebagai faktor untuk mendekatkan kepada
Allah dan sebagai media untuk mencapai kebutuhan. Parameter dalam bertawassul
adalah bahwa yang dijadikan wasilah itu memiliki kedudukan dan kemuliaan di
mata yang ditawassulkan.
Lafadz
al-wasilah dalam ayat di atas bersifat umum sebagaimana anda lihat. Lafadz ini
mencakup tawassul dengan sosok-sosok mulia dari kalangan para Nabi dan sholihin
baik di dunia maupun sesudah mati dan tawassul dengan melakukan amal shalih
sesuai dengan ketentuannya. Tawassul dengan amal shalih ini dilakukan setelah
amal ini dikerjakan.
Dalam
hadits dan atsar yang akan anda dengar terdapat keterangan yang menjelaskan
keumuman ayat di atas. Maka perhatikan dengan seksama agar anda bisa melihat
bahwa tawassul dengan Nabi sebelum wujudnya beliau dan sesudahnya di dunia,
sesudah wafat dalam alam barzakh dan sesudah dibangkitkan di hari kiamat,
terdapat di dalamnya.
Tawassul dengan Nabi
Muhammad SAW Sebelum Wujud di Dunia
Nabi
Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW. Di dalam sebuah hadits terdapat
keterangan bahwa Nabi Adam AS bertawassul dengan Nabi Muhammad. Dalam Al
Mustadrok, Imam Al Hakim berkata : Abu Sa’id Amr ibnu Muhammad Al ‘Adlu
menceritakan kepadaku, Abul Hasan Muhammad Ibnu Ishak Ibnu Ibrahim Al Handhori
menceritakan kepadaku, Abul Harits ‘Abdullah ibnu Muslim Al Fihri menceritakan
kepadaku, ‘Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam menceritakan kepadaku, dari ayahnya
dari kakeknya dari Umar RA, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,” Ketika
Adam melakukan kesalahan, ia berkata Ya
Tuhanku, Aku mohon kepada Mu dengan haqqnya Muhammad agar Engkau mengampuniku.”
Allah berkata; Wahai Adam bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal Aku
belum menciptakanya. “ Wahai Tuhanku, karena ketika Engkau menciptakanku
dengan kekuatan Mu dan Engkau tiupkan nyawa pada tubuhku dari roh Mu, maka aku
tengadahkan kepalaku lalu saya melihat di kaki-kaki ‘Arsy terdapat tulisan “
Laa Ilaha illa Allahu Muhammadur Rasulullah”, maka saya yakin Engkau tidak
menyandarkan nama Mu kecuali nama makhluk yang paling Engkau cintai,” jawab
Adam. “ Benar kamu wahai Adam, Muhammad adalah makhluk yang paling Aku
cintai. Berdo’alah kepada Ku dengan hakknya Muhammad maka Aku ampuni kamu.
Seandainya tanpa Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu,” lanjut Allah.
Imam Al
Hakim meriwayatkan hadits di atas dalam
kitab Al Mustadrok dan menilainya sebagai hadits shahih (vol. 2 hal. 615). Al
Hafidh As Suyuthi meriwayatkan dalam kitab Al Khashais An Nabawiyah dan
mengategorikan sebagai hadits shahih. Imam Al Baihaqi mmeriwayatkanya dalam
kitab Dalail Nubuwah, dan beliau tidak meriwayatkan hadits palsu sebagaimana
telah ia jelaskan dalam pengantar
kitabnya. Al Qasthalani dan Az Zurqani dalam Al Mawahib Al Laduniyah juga
menilainya sebagai hadits shahih. vol. 1 hal. 62. As Subuki dalam kitabnya
Syifaussaqaam juga menilainya sebagai hadits shahih. Al Hafidh Al Haitami
berkata, “At Tabbarani meriwayatkan
hadits di atas dalam Al Ausath dan di dalam hadits tersebut terdapat rawi yang
tidak saya kenal.” Majma’uzzawaid vol. 8 hal. 253.
Terdapat
hadits dari jalur lain dari Ibnu ‘Abbas dengan redaksi :
فلولا محمد ما خلقت آدم ولا الجنة ولا النار
“Jika tidak ada Muhammad
maka Aku tidak akan menciptakan Adam, sorga dan neraka.” (HR.Al Hakim)
HR.
Al-Hakim ini disebutkan dalam Al Mustadrak dengan isnad yang menurutnya shahih.
Syaikhul Islam Al Bulqini dalam Fatawinya juga menilai hadits ini shahih.
Hadits ini juga dicantumkan oleh Syaikh Ibnul Jauzi dalam Al Wafaa pada bagian
awal kitab dan dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah vol. 1 hlm. 180.
Sebagian
ulama tidak sepakat atas keshahihan hadits tersebut lalu mengomentari
statusnya, menolaknya dan memvonisnya sebagai hadits palsu (maudlu’) seperti
Adz Dzahabi dan pakar hadits lain. Sebagian menilainya sebagai hadits dlo’if
dan sebagian lagi menganggapnya sebagai hadits munkar. Dari penjelasan ini,
tampak bahwa para pakar hadits tidak satu suara dalam menilainya. Karena itu
persoalan ini menjadi polemik antara yang pro dan kontra berdasarkan perbedaan
mereka menyangkut status hadits. Ini adalah kajian dari aspek sanad dan
eksistensi hadits. Adapun dari aspek makna, maka mari kita simak penjelasan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai hadits tawassul ini.
Dokumen Dokumen Tentang Hadits
Tawassul Nabi Adam AS
Dalam konteks ini
Ibnu Taimiyyah menyebut dua hadits seraya berargumentasi dengan keduanya. Ia
berkata, “Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi meriwayatkan dengan sanadnya sampai
Maisarah. Maisarah berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan engkau
menjadi Nabi?” Jawab Rasulullah SAW, “Ketika Allah menciptakan bumi dan
naik ke atas langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit, dan menciptakan
‘arsy maka Allah menulis di atas kaki (betis) ‘arsy “Muhammad Rasulullah Khaatamul
Anbiyaa’.” Dan Allah menciptakan sorga yang ditempati oleh Adam dan Hawwaa’.
Lalu Dia menulis namaku pada pintu, daun, kubah dan kemah. Saat itu kondisi
Adam berada antara ruh dan jasad. Ketika Allah menghidupkan Adam, ia memandang
‘arsy dan melihat namaku. Lalu Allah menginformasikan kepadanya bahwa Muhammad
(yang tercatat pada ‘arsy) junjungan anakmu. Ketika Adam dan Hawwa’ terpedaya
oleh syetan, keduanya bertaubat dan memohon syafa’at dengan namaku kepada-Nya.”
Abu Nu’aim Al-Hafidh
meriwayatkan dalam kitab Dalaailu al-Nubuwwah dan melalui jalur Syaikh Abi
al-Faraj. Menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Ahmad
ibn Rasyid, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Sa’id al-Fihri, menceritakan
kepadaku Abdullah ibn Ismail al-Madani dari Abdurrahman ibn Yazid ibn Aslam
dari ayahnya dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Ketika Adam melakukan kesalahan, ia mendongakkan kepalanya. “Wahai Tuhanku,
dengan hak Muhammad, mohon Engkau ampuni aku,” ujar Adam. Lalu Adam mendapat
pertanyaan lewat wahyu, “Apa dan siapakah Muhammad?” “Ya Tuhanku, ketika
Engkau menyempurnakan penciptaanku, aku mendongakkan kepalaku ke arah ‘arsy-Mu
dan ternyata di sana tertera tulisan “Laa Ilaaha illa Allaah Muhammadun
Rasulullaah”. Jadi saya tahu bahwa Muhammad adalah makhluk Engkau yang paling
mulia di sisi-Mu. Karena Engkau merangkai namanya dengan namaMu,” jawab Adam. “Betul,” jawab Allah, “Aku
telah mengampunimu, dan Muhammad Nabi terakhir dari keturunanmu. Jika tanpa
dia, Aku tidak akan menciptakanmu.”
Hadits di atas
menguatkan hadits sebelumnya, dan keduanya seperti tafsir atas beberapa hadits
shahih. (Al-Fatawa, vol. II hlm. 150).
Pendapat Sayyid Muhammad
Alawi Al Maliki Al Hasani menyatakan, “Fakta ini menunjukkan bahwa hadits di
atas layak dijadikan penguat dan legitimasi. Karena hadits maudlu’ atau bathil
tidak bisa dijadikan penguat di mata para pakar hadits. Dan anda melihat
sendiri bahwa Syaikh Ibnu Taimiyyah menjadikannya sebagai penguat atas
penafsiran.”



0 komentar:
Posting Komentar